bagi siswa siswi smp muhammadiyah 3 yogyakarta dapat memposting di halaman comment pada blog ini.thanks
Jumat, 20 September 2013
Selasa, 10 September 2013
Lingua franca
http://bahasa.kompasiana.com/2013/09/06/berbahasa-indonesia-lingua-franca-dan-batas-dunia-kita-590173.html
Bahasa intelek
http://bahasa.kompasiana.com/2013/09/09/wawancara-intelektual-tingkat-tinggi-vicky-prasetyo-zaskia-gotik-591090.html
Minggu, 28 Juli 2013
linguistik
Linguistik adl ilmu bahasa (bahasa manusia). Objek ilmu ini adl bahasa. Bahasa yg dimaksud adl bahasa sehari-hari (atau fenomena lingual). Yg primer (utama) adl bhs lisan, dan yg sekunder adl bahasa tulis.
Linguistik punya tiga kategori yg selanjutnya akan membagi linguistik dlm sub-sub disiplinnya, yakni mengkaji (1) bentuk, (2) "meaning", dan (3) konteks. Dari ketiga kategori tsb nantinya akan berkaitan dg (a) struktur, (b) arti dan makna, serta (c) konteks intralingual dan ekstralingual. Berdasarkan pengkategorian tsb, linguistik dpt dibagi menjadi dua bidang besar: linguistik minor dan linguistik mayor.
Linguistik minor biasanya berurusan dengan form (bentuk), struktur, serta grammar (tatabahasa). Namun, ada pula yg menganggap makna intralingual juga termasuk di dalamnya. Linguistik minor ini kadang disebut jg linguistik umum atau "general linguistics", terkadang disebut juga linguistik struktural. Tanpa kemampuan menganalisis linguistik minor, mustahil seseorang dpt menguasai linguistik mayor dg baik. Berikut adl daftar subdisiplin linguistik minor:
(1) Fonologi (dibantu oleh fonetik [ilmu ttg bunyi bahasa])
(2) Morfologi
(3) Sintaksis
(4) Semantik (koteks--bukan konteks)
Fonologi berurusan dengan bentuk terkecil yg distingtif, baik dlm kata maupun bentuk yg lebih besar.
Morfologi berurusan dg satuan gramatikal terkecil. Satuan terkecilnya disebut morfem, satuan terbesarnya adalah kata. Karena urusannya grammatikal (tatabahasa), maka sintaksis--ilmu yg meneliti pengaturan kata--juga berkaitan erat dg morfologi. Sintaksis dan morfologi adl dua bidang yg biasa disebut dg istilah tradisional TATABAHASA (GRAMMAR). Sementara itu, semantik adl ilmu yg meneliti arti formal (umum, lepas dr konteks) dari bentuk-bentuk bahasa yang ada, baik berupa kata, frase, klausa, maupun kalimat.
Adapun linguistik mayor biasanya berkaitan dengan ekstralingual atau dg kata lain: kaitan antara bahasa dg hal-hal di luar bahasa.
Berikut cabang2nya:
(1) pragmatik
(2) analisis wacana
(3) sosiolinguistik
(4) antropolinguistik/ etnolinguistik
(5) dialektologi
(6) psikolinguistik
dan lain-lain
Pragmatik menangani hubungan antara bahasa dan konteks pemakaiannya dlm kehidupan sehari-hari. Sosiolinguistik adl hubungan antara bahasa dan pemakaiannya dlm lingkup sosial masyarakat. Antropolinguistik adl hubungan antara linguistik dg kebudayaan. Dialektologi menangani dialek dlm pemakaian berdasarkan areanya.
Sebenarnya masih ada bidang-bidang lain dr linguistik sinkronis, yakni linguistik kogntitif, tipologi bahasa, linguistik komputasional, atau neurolinguistik. Bidang-bidang linguistik di atas disebuut jg linguistik sinkronis atau linguistik yg meneliti bahasa pd suatu masa saja.
Sementara itu, ada juga linguistik diakronis, yg meneliti perubahan bahasa dr masa ke masa. Ilmunya disebut dg Linguistik Historis Komparatif. Disebut komparatif karena tujuannya adl membandingkan fitur-fitur linguistik utk mencari kekerabatan bahasa. Etimologi (ilmu yg meneliti asal-usul bahasa) adl bagian dr linguistik diakronis.
Linguistik punya tiga kategori yg selanjutnya akan membagi linguistik dlm sub-sub disiplinnya, yakni mengkaji (1) bentuk, (2) "meaning", dan (3) konteks. Dari ketiga kategori tsb nantinya akan berkaitan dg (a) struktur, (b) arti dan makna, serta (c) konteks intralingual dan ekstralingual. Berdasarkan pengkategorian tsb, linguistik dpt dibagi menjadi dua bidang besar: linguistik minor dan linguistik mayor.
Linguistik minor biasanya berurusan dengan form (bentuk), struktur, serta grammar (tatabahasa). Namun, ada pula yg menganggap makna intralingual juga termasuk di dalamnya. Linguistik minor ini kadang disebut jg linguistik umum atau "general linguistics", terkadang disebut juga linguistik struktural. Tanpa kemampuan menganalisis linguistik minor, mustahil seseorang dpt menguasai linguistik mayor dg baik. Berikut adl daftar subdisiplin linguistik minor:
(1) Fonologi (dibantu oleh fonetik [ilmu ttg bunyi bahasa])
(2) Morfologi
(3) Sintaksis
(4) Semantik (koteks--bukan konteks)
Fonologi berurusan dengan bentuk terkecil yg distingtif, baik dlm kata maupun bentuk yg lebih besar.
Morfologi berurusan dg satuan gramatikal terkecil. Satuan terkecilnya disebut morfem, satuan terbesarnya adalah kata. Karena urusannya grammatikal (tatabahasa), maka sintaksis--ilmu yg meneliti pengaturan kata--juga berkaitan erat dg morfologi. Sintaksis dan morfologi adl dua bidang yg biasa disebut dg istilah tradisional TATABAHASA (GRAMMAR). Sementara itu, semantik adl ilmu yg meneliti arti formal (umum, lepas dr konteks) dari bentuk-bentuk bahasa yang ada, baik berupa kata, frase, klausa, maupun kalimat.
Adapun linguistik mayor biasanya berkaitan dengan ekstralingual atau dg kata lain: kaitan antara bahasa dg hal-hal di luar bahasa.
Berikut cabang2nya:
(1) pragmatik
(2) analisis wacana
(3) sosiolinguistik
(4) antropolinguistik/
(5) dialektologi
(6) psikolinguistik
dan lain-lain
Pragmatik menangani hubungan antara bahasa dan konteks pemakaiannya dlm kehidupan sehari-hari. Sosiolinguistik adl hubungan antara bahasa dan pemakaiannya dlm lingkup sosial masyarakat. Antropolinguistik adl hubungan antara linguistik dg kebudayaan. Dialektologi menangani dialek dlm pemakaian berdasarkan areanya.
Sebenarnya masih ada bidang-bidang lain dr linguistik sinkronis, yakni linguistik kogntitif, tipologi bahasa, linguistik komputasional, atau neurolinguistik. Bidang-bidang linguistik di atas disebuut jg linguistik sinkronis atau linguistik yg meneliti bahasa pd suatu masa saja.
Sementara itu, ada juga linguistik diakronis, yg meneliti perubahan bahasa dr masa ke masa. Ilmunya disebut dg Linguistik Historis Komparatif. Disebut komparatif karena tujuannya adl membandingkan fitur-fitur linguistik utk mencari kekerabatan bahasa. Etimologi (ilmu yg meneliti asal-usul bahasa) adl bagian dr linguistik diakronis.
Kamis, 28 Maret 2013
judulnya back to 90an
Masih inget taun 90'an??
Jaman SD-SMP kita dulu yg
pernah Trend?
*Artis cilik Bondan Prakoso
... (Lumba")
Eno Lerian (Nyamuk nakal)
Melisa (Semut" kecil)
Meysi
Trio Kwek2
Agnes Monica (y)
*Baca komik Doraemon, Dragon
Ball, Kungfu Boy atau StoryBook
Ghoosebumps dikelas sampe
disita guru
*Rebutan main Mesin Dingdong.
Klo yg tajir beli Nintendo, Sega,
ato Gameboy buat main game
Mario Bross sama Sonic.
*Ngabisin koinan di Telpon
umum atw Wartel, PDKT sama
kenalan.
*Pake jam G-shock (y)
*Main Monopoli, Ular Tangga atw
Kartu Hologram, Kuartet yg kalah
d coret pake bedak
*Maen TAMIYA sampe lupa
waktu, akirnya Ortu dateng cariin
ke trek tempat maen tamiya
*Makan ANAK MAS n coklat coki2
yg msi eksis mpe skrang
*Beli coklat Ayam Jago sama
Wafer coklat merk SUPERMAN n
Makan Jagoan Neon biar lidah
nya berubah warna warni =D
*Setelah era sablon sama
bordiran ALIEN atw Shuvit berlalu
gantian pake baju ala POINT
BREAK (Stussy,Mossimo,
Billabong, Rip Curl,Volcom dll)
*Bangga make tas slempang
bermerk KutaLines atw Dagadu
(y)
*Nonton KOTARO MINAMI jd
Ksatria Baja Hitam dan SaintSeiya
Sama Power Ranger
*Beli sepatu skolah yg
diblakangnya ad lampu nyala
(PRO ATT)
*Ngumpulin TAZOS dari Chiki,
Chitato yg banyak punya koleksi
bangga <=-P
*Melihara binatang yg hrus d
ksih mkan tiap hari n ga hrs beli
kandang,Yuup..,TAMAGOTCHI =))
*Ngumpulin krtas file lucu2 n
tuker2an sm tmn:$
*Gosip klo dlu ad Pulpen narkoba
yg wangi bngett:/
*Make NECKERMAN anti SLIP or
CARVIL dan diplesetin jadi
“nyekerman”
*Ngerasa kurang gaul klo belum
ngisi Diary punya temen "My
Biodata" X_X
*Dan sering tulis2 ditembok atau
papan "andi vs vina" bukanya
"andi ♥ vina", padahal
maksudnya "aku cinta dia" buat
jodoh2in teman
*permen karet yg nyusun huruf Y-
O-S-A-N
dari jaman bahela ampe
sekarang gag ada huruf N nya..
apa lupa diproduksi yak?
wkwkwkwkwk
*suka main surat cinta
ampe nyolong2 minyak wangi
bokab biar suratnya harum,
deg2anya gak karuan waktu
nunggu balesanya,
Naaah udaa Senyum²
sendirikan?? :$
Jdi inget masa dulu yah,masa
paling Indah dibanding sekarang
era 2000 an,,
Kasian yaa adik2 qta skrang,msa
kanak2nya trenggut n pada
ALAY ,kecil2 ud pake BB, iphone,
Android, sok gaul bawa mobil
bokap, minum" biar dibilang
macho dll..
Dewasa karbitan=))
Jaman SD-SMP kita dulu yg
pernah Trend?
*Artis cilik Bondan Prakoso
... (Lumba")
Eno Lerian (Nyamuk nakal)
Melisa (Semut" kecil)
Meysi
Trio Kwek2
Agnes Monica (y)
*Baca komik Doraemon, Dragon
Ball, Kungfu Boy atau StoryBook
Ghoosebumps dikelas sampe
disita guru
*Rebutan main Mesin Dingdong.
Klo yg tajir beli Nintendo, Sega,
ato Gameboy buat main game
Mario Bross sama Sonic.
*Ngabisin koinan di Telpon
umum atw Wartel, PDKT sama
kenalan.
*Pake jam G-shock (y)
*Main Monopoli, Ular Tangga atw
Kartu Hologram, Kuartet yg kalah
d coret pake bedak
*Maen TAMIYA sampe lupa
waktu, akirnya Ortu dateng cariin
ke trek tempat maen tamiya
*Makan ANAK MAS n coklat coki2
yg msi eksis mpe skrang
*Beli coklat Ayam Jago sama
Wafer coklat merk SUPERMAN n
Makan Jagoan Neon biar lidah
nya berubah warna warni =D
*Setelah era sablon sama
bordiran ALIEN atw Shuvit berlalu
gantian pake baju ala POINT
BREAK (Stussy,Mossimo,
Billabong, Rip Curl,Volcom dll)
*Bangga make tas slempang
bermerk KutaLines atw Dagadu
(y)
*Nonton KOTARO MINAMI jd
Ksatria Baja Hitam dan SaintSeiya
Sama Power Ranger
*Beli sepatu skolah yg
diblakangnya ad lampu nyala
(PRO ATT)
*Ngumpulin TAZOS dari Chiki,
Chitato yg banyak punya koleksi
bangga <=-P
*Melihara binatang yg hrus d
ksih mkan tiap hari n ga hrs beli
kandang,Yuup..,TAMAGOTCHI =))
*Ngumpulin krtas file lucu2 n
tuker2an sm tmn:$
*Gosip klo dlu ad Pulpen narkoba
yg wangi bngett:/
*Make NECKERMAN anti SLIP or
CARVIL dan diplesetin jadi
“nyekerman”
*Ngerasa kurang gaul klo belum
ngisi Diary punya temen "My
Biodata" X_X
*Dan sering tulis2 ditembok atau
papan "andi vs vina" bukanya
"andi ♥ vina", padahal
maksudnya "aku cinta dia" buat
jodoh2in teman
*permen karet yg nyusun huruf Y-
O-S-A-N
dari jaman bahela ampe
sekarang gag ada huruf N nya..
apa lupa diproduksi yak?
wkwkwkwkwk
*suka main surat cinta
ampe nyolong2 minyak wangi
bokab biar suratnya harum,
deg2anya gak karuan waktu
nunggu balesanya,
Naaah udaa Senyum²
sendirikan?? :$
Jdi inget masa dulu yah,masa
paling Indah dibanding sekarang
era 2000 an,,
Kasian yaa adik2 qta skrang,msa
kanak2nya trenggut n pada
ALAY ,kecil2 ud pake BB, iphone,
Android, sok gaul bawa mobil
bokap, minum" biar dibilang
macho dll..
Dewasa karbitan=))
Senin, 18 Maret 2013
asal mula bahasa indonesia, sebuah kajan dialektologi
I.
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia adalah salah
satu ragam bahsa melayu. Mulanya bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa kerja
dilingkungan administrasi pada colonial belanda. Penamaan
"Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928,
untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa
Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat
ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa
yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan
maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Bahasa Indonesia berasal dari
ragam bahasa melayu. Ragam yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke
19. Bahasa melayu dalam perkembangannya muncul dari berbagai variasi dan
dialek. Perkembangan bahasa melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan
mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia.. Ada empat
faktor yang menyebabkan bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia yaitu:
-
Bahasa melayu adalah merupakan Lingua
Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.
-
Sistem bahasa melayu sederhana, mudah
di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak di kenal tingkatan bahasa (bahasa
kasar dan bahasa halus).
-
Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku- suku
yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu menjadi bahasa indonesia
sebagai bahasa nasional.
-
Bahasa melayu mempunyai kesanggupan
untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
a.
Definisi pidgin dan creoles
Pidgin adalah bahasa yang
tidak mempunyai penutur asli. Pidgin kadang-kadang dianggap sebagai sebuah
variasi yang mengurangi bahasa normal, dengan penyederhanaan tata bahasa dan
kosa kata, variasi fonologi, dan pencampuran kosa kata bahasa lokal. Oleh
karena itu pidginisasi meliputi penyederhanaan bahasa, seperti pengurangan
sistem morfologi (struktur kata) dan sintaksis (struktur gramatikal), toleran
terhadap perbedaan pelafalan, pengurangan sejumlah fungsi bahasa, dan perluasan
peminjaman kata-kata dari bahasa lokal. Pendapat yang sama dikemukakan oleh
Fasold (1996) yang menyatakan bahwa pidgin merupakan penyederhanaan dari pelafalan
dan aspek-aspek tertentu tata bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas, definisi pidgin dapat disarikan menjadi
dua, yaitu:
(1) Pidgin merupakan variasi bahasa yang tidak memiliki pentur asli,
(2) Pidgin adalah variasi bahasa yang bercirikan penyederhanaan (simplification), dan lazimnya aspek yang mengalami penyederhanaan adalah tata bahasa dan kosa kata.
(2) Pidgin adalah variasi bahasa yang bercirikan penyederhanaan (simplification), dan lazimnya aspek yang mengalami penyederhanaan adalah tata bahasa dan kosa kata.
Apabila diamati secara etimologis, istilah bahasa Inggris pidgin
kemungkinan besar diambil dari kata benda business yang berarti perdagangan.
Creoles adalah bahasa
pidgin yang mempunyai penutur asli (Hudson: 1996, Holmes: 2001, Wardhaugh:
1988). Wardhaugh (1988) mengibaratkan creoles seperti bahasa normal yang
memiliki penutur asli. Definis lain mengenai creoles adalah bahasa yang
terbentuk jika suatu sistem komunikasi yang pada awalnya merupakan bahasa pidgin
kemudian menjadi bahasa ibu suatu masyarakat (Suhardi dkk: 1995). Pendapat ini
dikuatkan oleh Holmes (2001) yang mengatakan bahwa semua bahasa yang disebut pidgin
pada kenyataannya sekarang ini menjadi bahasa creoles baru. Bahasa creoles
tersebut dipelajari oleh anak sebagai bahasa pertama dan dipergunakan pada domain
yang luas. Holmes (2001) mencontohkan seperti bahasa Tok Pisin yang mulanya
adalah bahasa pidgin dan berkembang menjadi bahasa creoles.
b.
Ciri – ciri pidgin dan creoles
Bahasa pidgin
memiliki dua sturktur linguistik. Ciri yang pertama adalah penyederhanaan
struktur. Misalnya kata tidak memiliki sistem infleksi, penanda plural atau
kala dalam kata kerja sebagaimana bahasa Inggris. Tidak terdapat afiks yang
menjadi penanda gender seperti bahasa Spanyol atau Italia. Holmes (2001)
membuat contoh seperti berikut ini yang berkaitan dengan bentuk verba antara
bahasa pidgin dengan bahasa yang normal.
Ciri yang kedua adalah
jumlah kosa kata yang terbatas. Oleh karena pidgin hanya dipergunakan untuk
perdagangan, jumlah kosa katanya hanya beberapa ratus saja. Oleh karena kosa
katanya tidak banyak, satu kata dalam bahas pidgin bisa mengandung beberapa
arti. Misalnya kata pas dalam bahasa Tok Pisin dapat berarti a pass, a letter,
a permit, ahead, fast, firmly, to be dense, crowded, tight, to be block, atau
shut. Hal ini berbeda dengan bahasa normal (bahasa orang dewasa yang
monolingual) yang memiliki kosa kata sekitar 25.000 – 30.000 kata.
Terkait dengan aspek
sosial, bahasa pidgin adalah bahasa yang oleh penuturnya dipergunakan sebagai
bahasa ibu. Pemerolehannya berlangsung dalam proses belajar bahasa secara
bebas. Selain itu, dipengaruhi oleh kekuatan petutur. Oleh karena itu, bahasa pidgin
hanya dapat menutupi kebutuhan akan ragam bahasa yang diperlukan untuk
pemahakan bahasa pertama saja (misalnya dalam bidang perdagangan, peraturan
yang sederhana). Dengan demikian, sistem bahasa pidgin dapat dipahami memiliki
status sosiolinguitik yang rendah di antara kedua mitra bicara/petutur.
Pada dasarnya menurut
Holmes (2001) bahasa pidgin memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah untuk
perdagangan atau untuk administrasi. Di samping itu, bahasa pidgin dipergunakan
secara eksklusif untuk fungsi bahasa referensial (penyampaian informasi)
daripada fungsi afektif (menjaga hubungan sosial). Oleh karena itu, bahasa pidgin
dituturkan untuk fungsi atau tujuan khusus seperti membeli dan menjual bijih
padi atau hewan langka daripada dituturkan untuk menandakan perbedaan sosial
atau ekspresi kesantunan.
II.
PEMBAHASAN
Bahasa
secara keseluruhan dapat berubah. Kadang-kadang perubahan bahasa terjadi dalam
waktu singkat sebagai akibat dari kontak antar dua bahasa yang digunakan oleh
orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Dalam kondisi
demikian dapat muncul yang namanya pidgin. Pidgin biasanya memiliki tatabahasa
yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda sehingga
pencampuran unsur-unsur kedua bahasa tersebut menyebabkan adanya bahasa
campuran. Sebuah pidgin tidak memiliki penutur bahasa ibu (native
speaker). Jika memiliki native speaker maka bahasa ini disebut bahasa creoles.
Jadi, creoles adalah perkembangan pidgin yang telah memiliki bahasa induk
(bahasa ibu). Beberapa bahasa yang dianggap bahasa creoles di Indonesia antara
lain adalah bahasa Melayu Ambon dan bahasa Melayu Betawi. Jadi, creoles
merupakan akibat dari kontak bahasa juga yang merupakan pengembangan dari
pidgin tersebut.
Creoles
muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu.
Strukturnya masih menggambarkan struktur pidgin, tetapi disebut creoles karena
menjadi bahasa ibu mereka. Pidgin bisa menjadi creoles ketika adanya penutur
asing dan digunakan oleh keturunannya yang kemudian dibekukan sebagai bahasa
pertama mereka. Ini baru dikatakan creoles apabila bahasa pidgin ini telah
berlangsung secara turun-temurun. Creoles memiliki penutur lebih banyak
dibanding pidgin. Karena creoles berkembang melalui anak-cucunya, dan pidgin
hanya merupakan bahasa aslinya. Ketika seseorang menyebut suatu bahasa itu creoles,
maka seharusnya terlebih dahulu bahasa tersebut telah terbukti secara historis tentang
asal-usulnya. Karena dalam menentukan creoles atau tidaknya, historis suatu
bahasa memiliki peranan yang sangat penting dan memiliki keterkaitan yang
sangat erat.
Creolesisasi
adalah suatu perkembangan linguistik yang terjadi karena dua bahasa melakukan
kontak dalam waktu yang lama yang mana penutur pidgin tersebut telah beranak
pinak. Begitu seterusnya jika creoles mampu bertahan dan terus berkembanga maka
creoles akan bias menjadi bahasa yang lebih besar dan lebih lengkap Contohnya
adalah bahasa Sierra Leona di Afrika Barat yang kemudian menjadi bahasa
nasional. Bahasa creoles berkembang dari bahasa pidgin. Pertama-tama, suatu
bahasa digunakan sebagai bahasa pertama pada suatu daerah tersebut, kemudian
para pemuda, khususnya para pedagang, melakukan kegiatan berinteraksinya dengan
cara berdagang.
Dari
berbagai macam asal-usul para pedagang, apabila mereka berinterkasi dengan
negara-negara lain yang memunyai bahasa yang jauh berbeda baik struktural atau
fungsional, maka mereka menciptakan suatu bahasa baru dengan mengutip, dan
memparaphrase dari bahasa-bahasa mereka sendiri yang dimengerti oleh seluruh
pedagang yang bersangkutan agar mereka mampu berinteraksi dengan baik. Bahasa
pertama pada suatu daerah itu tergantung pada apakah daerah tersebut hasil jajahan,
siapakah penjajahnya, dan pengaruh apa yang tertinggal.
Dalam
hal ini bahasa
Indonesia termasuk dalam bahasa creoles karena berasal dari beberapa bahasa
seperti bahasa jawa, melayu. Bahasa jawa termasuk dalam bahasa pidgin, dimana
bahasa jawa merupakan induk dari sebuah bahasa. Bahasa Indonesia digunakan
sebagai bahasa baku yang di adapasi dari bahasa melayu. Oleh karena bahasa
melayu sebagai bahasa perdagangan dan sering digunakan untuk berinteraksi satu
sama lain, maka bahasa melayu berkembang menjadi bahasa baku masyarakat Indonesia
yaitu bahasa Indonesia.
III.
KESIMPULAN
Dari
analisis diatas, bahasa Indonesia tergolong dalam bahasa creoles karena bukan
termasuk bahasa induk. Indonesia memiliki beberapa bahasa induk seperti bahasa
jawa dan bahasa daerah lainnya.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Holmes, Janet. 2001.
An Introduction to Sociolinguistics.
Pearson Education Limited
Loreto Todd. 1974. Pidgin and Creoles. London. Routledge
and Kegan Paul.
Langganan:
Postingan (Atom)